Usia 30-an, usia dimana seseorang harusnya sudah matang secara mental dan finansial, apa betul begitu? Entahlah, saya sendiri sudah lebih dari 30 tahun, dan merasa belum memiliki pencapaian apapun..so sad!!
Banyak hal terjadi, diantara tawa ada juga tangisan. Di usia ini, ternyata begitu susah untuk bermimpi. Jangankan bermimpi, bernafas saja rasanya menyesakkan.
Kepala selalu penuh dengan tagihan-tagihan yang semakin lama bukannya berkurang justru menggunung. Bangun di pagi hari, berkutat lagi dengan mencari jalan keluar yang ujung-ujungnya "itu lagi itu lagi". Menjelang tidur, pikiran menerawang ke "itu lagi itu lagi". Kadang mimpi indah datang memberi sedikit penghiburan yang berasa nyata sesaat.
Setiap hari tak hentinya berdoa tanda tak putusnya harapan, bertawakkal, percaya tuhan punya rencana terbaik. Tapi, karena ilmu agama saya yang masih seujung kuku membuat saya kadang kehilangan kepercayaan itu, kepercayaan akan doa dan harapan yang akan menjadi nyata.
Namun, ketika sudah lelah menjauh dari NYA, tetap pada akhirnya kembali bersimpuh sambil menangis sesegukkan tanpa tahu malu memohon ampunan berharap belas kasihan Sang Penguasa Jagad Raya. benar-benar TAK TAHU MALU!!
Di Usia 30-an tidak sedikit yang mengalami hal seperti saya, saya yakin BANYAK. Ketika di usia ini belum merasa sukses maka yang muncul adalah rasa putus asa, tidak percaya diri, merasa diremehkan, merasa paling sengsara, menatap iri kawan yang sudah sukses. Saya mengalaminya, dan itu manusiawi. Asal jangan sampai semua penyakit hati itu mempengaruhi otak untuk bertindak menyakiti diri sendiri. Setidaknya harus ada harga diri yang di jaga. Setidaknya saya..kita yang terpuruk ini HARUS HIDUP!!
Ketika sudah ada di titik jenuh, biasanya saya berkunjung ke rumah papa saya, mengobrol sambil memandang wajah papa saya yang semakin menua, sedih rasanya belum bisa memberi kebahagiaan untuk beliau. Tidak pernah sedikitpun, beliau meminta sesuatu yang memberatkan anak-anaknya, hal inilah yang kadang membuat saya malu berdiri di hadapan papa saya yang sudah mengorbankan banyak hal untuk anak-anaknya. Papa saya lah yang memberi kekuatan untuk terus bertahan di kerumitan hidup ini, cita-cita saya cuma satu ingin membahagiakan orangtua yang masih bertahan di dunia ini yaitu papa saya.
Suami. Laki-laki kedua alasan saya hidup, alasan saya untuk selalu ingin sehat. Semua kelembutannya, semua polahnya, semua ucapannya selalu membuat bibir ini tersenyum. Sentuhan, pelukannya selalu membuat saya sadar, masih ada tenpat teraman dan ternyaman di dunia ini. Kadang saya bertanya bagaimana cara dia bisa menjalani hidup ini dengan santai, jawabannya, "kalau kita panik kita nangis terus semua berubah langsung jadi enak?"
Itulah suami saya, pemikirannya yang sederhana kadang membantu saya memahami kebaikan skenario SANG SUTRADARA LANGIT. Hidup bersama suami saya membantu saya selalu waras, Membantu saya untuk berani bermimpi lagi, walaupun tidak mudah bermimpi di usia ini, tapi saya percaya mimpi tak ada batasnya. Sedikit demi sedikit sekarang ssaya beranikan diri untuk mencari mimpi-mimpi saya lagi dan berusaha membangunnya. TIDAK ADA KATA TERLAMBAT!!
-che-
Di Usia 30-an tidak sedikit yang mengalami hal seperti saya, saya yakin BANYAK. Ketika di usia ini belum merasa sukses maka yang muncul adalah rasa putus asa, tidak percaya diri, merasa diremehkan, merasa paling sengsara, menatap iri kawan yang sudah sukses. Saya mengalaminya, dan itu manusiawi. Asal jangan sampai semua penyakit hati itu mempengaruhi otak untuk bertindak menyakiti diri sendiri. Setidaknya harus ada harga diri yang di jaga. Setidaknya saya..kita yang terpuruk ini HARUS HIDUP!!
Ketika sudah ada di titik jenuh, biasanya saya berkunjung ke rumah papa saya, mengobrol sambil memandang wajah papa saya yang semakin menua, sedih rasanya belum bisa memberi kebahagiaan untuk beliau. Tidak pernah sedikitpun, beliau meminta sesuatu yang memberatkan anak-anaknya, hal inilah yang kadang membuat saya malu berdiri di hadapan papa saya yang sudah mengorbankan banyak hal untuk anak-anaknya. Papa saya lah yang memberi kekuatan untuk terus bertahan di kerumitan hidup ini, cita-cita saya cuma satu ingin membahagiakan orangtua yang masih bertahan di dunia ini yaitu papa saya.
Suami. Laki-laki kedua alasan saya hidup, alasan saya untuk selalu ingin sehat. Semua kelembutannya, semua polahnya, semua ucapannya selalu membuat bibir ini tersenyum. Sentuhan, pelukannya selalu membuat saya sadar, masih ada tenpat teraman dan ternyaman di dunia ini. Kadang saya bertanya bagaimana cara dia bisa menjalani hidup ini dengan santai, jawabannya, "kalau kita panik kita nangis terus semua berubah langsung jadi enak?"
Itulah suami saya, pemikirannya yang sederhana kadang membantu saya memahami kebaikan skenario SANG SUTRADARA LANGIT. Hidup bersama suami saya membantu saya selalu waras, Membantu saya untuk berani bermimpi lagi, walaupun tidak mudah bermimpi di usia ini, tapi saya percaya mimpi tak ada batasnya. Sedikit demi sedikit sekarang ssaya beranikan diri untuk mencari mimpi-mimpi saya lagi dan berusaha membangunnya. TIDAK ADA KATA TERLAMBAT!!
-che-